Jumat, 01 Februari 2013

mengenangmu


Mengenangmu
     T

aburan bunga menghiasi tempatmu bersandar.Setangkai bunga mawar,menjadi saksi kesetianku padamu. Nama yang dulu terukir didalam hatiku sekarang berpindah pada batu nisan ini.Mungkin hanya kau yang tau mengapa sampai saat ini aku masih sendiri,dan mungkin kau juga tau mengapa air mata ini terus mengalir saat aku mengenangmu. Kau tinggalkan ku begitu cepat. Masihku ingat caramu meninggalkanku.
          Hari itu saat rintik hujan menemani langkah kami untuk berjalan-jalan ditaman, aku tahu bahwa kau sudah tidak kuat lagi dengan penderitaanmu di dunia ini. Penyakit yang menggrogoti tubuhmu kini sudah menggambil alih semua yang kau miliki. Dan saat itu kau tunjukan hal yang sangat pedih bagiku.
          “Aku nanti ingin pergi ke toko itu, aku ingin beli mawar”
          “Tapi kamu masih sakit, nanti aku saja yang beli “
           “Dokterkan udah ngomongkan tadi, aku udah sembuh, cuman belum seluruhnya aja”
           “Iya itu artinya kamu masih sakit”
           “Terserahlah, aku ingin pergi ke toko itu”

          Tatapan matanya seolah menyuruhku untuk tetap diam. Andaikan kau tau, kau sangat berharga dihatiku. Rasa khawatir yang selalu datang menghampiriku tak henti-hentinya hilang malah semakin menjadi-jadi. Sampai saat ini kau belum mengerti juga tentang perasaanku selama ini. Kau masih saja menganggapku sebagai seorang teman dekat. Sampai kapan kau menganggapku sebagai sahabat ? aku ingin, kau dan aku menjadi sepasang kekasih dan aku berjanji akan selalu menjagamu, tapi semuanya runtuh karena ada sebuah tembok penghalang yang bernama persahabatan. Mungkin Tuhan belum mengizinkan kita untuk bersama. Tapi aku yakin suatu saat nanti Tuhan akan menakdirkan kita untuk menjadi sepasang kekasih.

Lepas dari semua itu terdengar suara yang sangat keras membuyarkan lamunanku, serentak aku menoleh kearah kanan. Ternyata ada kecelakaan, mataku melirik kekanan dan kekiri.Dimana Rani ?,karena air hujan berhenti menetes mungkin dia sedang berjalan-jalan untuk menikmati udara segar pikirku. Sempat ku tanya Bapak tua yang sedang berjualan buah didekatku.

“Ada apa Pak ?”
“Ada kecelakaan Nak”
“Kecelakaan apa ?”
“Truk itu menabrak seorang wanita yang sedang menyeberang, karena saking kencangnya tabrakanpun tidak bisa dihindarkan”
“Seorang wanita ?”

Sebelum Bapak tua itu menjawab lagi aku langsung berlari sekencang mungkin mendekati sekumpulan orang-orang yang ada disana. Rani, ternyata benar Rani yang telah menjadi korban. Pada waktu itu bibir kecilnya memanggil-manggil namaku langsung aku mendekatinya dan ku sandarkan dia ditubuhku.

“Joko..”
“Iya Rani”
“Maafkan aku selama ini”
“Maaf untuk apa kau tak pernah membuat kesalahan selama ini”
“Aku selalu merepotkanmu”
“Tidak, kau tidak merepotkanku”
“Joko…”
“Iya Rani”
“Aku…”

 Ku saksikan tubuh Rani yang telah berlumur darah. Kenapa semua ini harus terjadi kepada orang yang aku cintai ? Kenapa bukan aku saja ? tetesan air mata ini tak terbendung lagi saat kau menghembuskan nafas terakhir. Saat kematianmu sebelum kau menutup mata ini untuk selama-lamanya aku melihat sebuah pelangi dimatamu yang ditemani senyuman darimu untukku. Mungkin Tuhan menakdirkan kita untuk berpisah Rani ,tapi disuatu tempat disurga nanti akan ku ungkap isi dihatiku saat ini, dan biarkan ku simpan rasa ini sampai aku bertemu kau disurga.

Sebulan sebelum kepergian Rani. Dia melulis surat untukku yang dititipkannya kepada kakak perempuannya, untuk diberikan kepadaku. Aku disuruh membacanya didepan keluarga Rani. Perlahan ku buka selembar kertas itu

Untuk Joko. Joko maafkan aku selama ini jika aku sering merepotkanmu, aku menulis surat ini untukmu karena ada sebuah pesan yang ingin ku sampaikan padamu sebelum aku meninggal karena kanker yang telah menggrogoti hampir seluruh tubuhku .Dan apabila aku masih hidup aku ingin kau mengerti akan pesan yang ku sampaikan ini ,Joko sebenarnya aku mencintaimu.

Ternyata dia mencintaiku, ternyata sebelum dia menutup mata dia ingin mengatakan bahwa dia mencintaiku. Semua keluarganya memandangku dengan tatapan sinis, mungkin karena Rani mencintaiku dan aku tidak bisa menjaganya. Terdengar suara Neneknya Rani sedang duduk dikursi tua itu

“Kau sekarang bagian dari keluarga kami Nak, karena Rani telah memilihmu menjadi kekasihnya”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar